Norwegia memperketat aturan teknologi bagi pelajar dengan membatasi penggunaan AI generatif dan menyiapkan larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun. Langkah ini menjadi bagian dari reformasi pendidikan digital yang lebih luas.
Layaknya di Indonesia dengan PP Tunas nya, Norwegia siapkan larangan media sosial dan AI untuk anak sebagai bagian dari kebijakan baru yang berfokus pada kesehatan, perkembangan, dan kualitas pendidikan generasi muda.
Pemerintah negara tersebut menilai penggunaan teknologi digital perlu diatur lebih ketat agar tidak mengganggu proses tumbuh kembang anak.
Karena itu, sejumlah pembatasan mulai diterapkan secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah Fokus pada Perkembangan Anak
Yang menarik, kebijakan terbaru tidak hanya menyasar media sosial tetapi juga teknologi kecerdasan buatan.
Mulai tahun ajaran baru pada Agustus 2026, siswa sekolah dasar berusia 6 hingga 13 tahun tidak lagi diperbolehkan menggunakan AI generatif untuk kegiatan belajar.
Pemerintah menilai anak-anak perlu menguasai kemampuan dasar terlebih dahulu sebelum memanfaatkan teknologi tersebut.
Dalam konteks tersebut, keterampilan membaca, menulis, dan berhitung menjadi prioritas utama.
AI Tetap Diizinkan untuk Kelompok Usia Tertentu
Meski menerapkan larangan bagi siswa sekolah dasar, pemerintah tidak menutup akses AI sepenuhnya.
Siswa berusia 14 hingga 16 tahun masih dapat menggunakan AI generatif selama mendapat pengawasan guru.
Sementara itu, pelajar berusia 17 tahun ke atas tetap memperoleh akses penuh untuk menggunakan teknologi tersebut secara mandiri.
Namun, pemerintah mengingatkan pentingnya penggunaan AI yang bertanggung jawab dan sesuai kebutuhan pendidikan.
Larangan Ponsel Jadi Dasar Kebijakan Baru
Kebijakan pembatasan teknologi ini berangkat dari pengalaman sebelumnya.
Sejak 2024, Norwegia telah melarang penggunaan telepon pintar di sekolah.
Berdasarkan evaluasi pemerintah, hasil kebijakan tersebut tergolong positif.
Faktanya, kasus perundungan menurun dan prestasi akademik siswa meningkat.
Selain itu, jumlah kunjungan ke layanan psikologis terkait masalah kesehatan mental juga berkurang.
Yang patut dicatat, manfaat tersebut paling terlihat pada kelompok siswa perempuan.
Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun Jadi Target Berikutnya
Selanjutnya, pemerintah menargetkan pembatasan akses media sosial bagi anak-anak.
Rancangan aturan baru akan melarang anak berusia di bawah 16 tahun memiliki akses ke platform media sosial.
Pemerintah berencana mengajukan usulan tersebut ke parlemen sebelum akhir 2026.
Dalam praktiknya, kebijakan itu akan mengadopsi pendekatan yang mirip dengan regulasi yang telah diterapkan di Australia.
Dengan kata lain, Norwegia ingin membangun ekosistem pendidikan yang menempatkan interaksi langsung dan kemampuan dasar sebagai fondasi utama pembelajaran.
